TANAMAN MANGGA (Mangifera Indica L) SEBAGAI TANAMAN MPTS YANG MEMILIKI NILAI EKONOMIS TINGGI


BAB I
PENDAHULUAN  
1.1  Latar Belakang
Tanaman mangga (Mangifera indica) sering dimanfaatkan oleh masyarakat Indonesia sebagai salah satu tanaman yang buahnya dapat dikonsumsi dan dimanfaatkan untuk kehidupan sehari-hari. Tanaman mangga (Mangifera indica) termasuk kedalam tanaman yang hampir semua bagian tanamanya dimanfaatkan baik untuk obat-obatan ataupun hanya untuk sebagai bahan pangan. Buah mangga sering sekali digunakan untuk konsumsi sehari-hari karena memiliki banyak khasiat dan memiliki kandungan yang dibutuhkan bagi tubuh manusia. Sehingga masyarakat banyak yang membudidayakan tanaman ini. Tidak memerlukkan perawatan khusus dan dapat dibudidayakan dipekarangan rumah membuat masyarakat Indonesia gemar membudidayakan tanaman ini. Hampir disetiap rumah memiliki tanaman Mangga (Mangifera indica) yang memiliki beranekaragam jenis yang ada dari tanaman ini.
Tanaman mangga (Mangifera indica) memiliki nilai ekonomis karena buahnya dapat dijual di pasar maupun dikonsumsi pribadi. Kandungan dan khasiatnya tinggi membuat buah mangga dapat diperjualbelikkan. Selain buah mangga yang dapat dikonsumsi untuk bahan pangan bagian tubuh tanaman ini yang dapat dimanfaatkan adalah bagian daunya. Kandungan dalam daun mangga memiliki khasiat dapat menurunkan kadar asam urat. Hasil analisis menunjukan kadar asam asetat tertinggi terdapat pada daun mangga muda 25,11 % dan pada daun manga tua yaitu 6,77%. Daun mangga memiliki kandungan senyawa golongan alkaloid, flavonoid, stereoid, polifenol, tanin, dan saponin.
Tanaman mangga memiliki nilai ekonomis yang dapat diperjualbelikkan, namun selain memiliki nilai ekonomis tanaman mangga juga memiliki manfaat untuk obat-obatan. Hal ini dikarenakan mangga memiliki kandungan beberapa kandungan yang dapat mengobati beberapa penyakit. Sehingga tanaman mangga selain bernilai ekonomis juga memiliki potensi sebagai tanaman berobat karena mengandung senyawa metabolit sekunder. Penelitian-penelitian yang telah dilakukan terhadap tanaman mangga yaitu daun mangga sebagai antioksidan, antimikroba, dan antitumor. Selain flavonoid tanaman mangga juga mengandung saponin, tanin galat, tanin katekat, kuinon dan steroid atau tripenoid.
Permintaan konsumen akan buah mangga tidak hanya dalam bentuk segar, tetapi juga dari produk turunan nya seperti minuman dari buah mangga. Minuman berbahan baku buah mangga banyak diminati oleh konsumen dari berbagai usia. Selain karena rasa nya yang enak minuman berbahan baku buah mangga juga diminati karena kandungan yang terdapat di dalam buah mangga. Melihat peluang tersebut banyak produsen atau tempat usaha yang menjual minuman dari buah mangga dalam berbagai jenis, seperti jus buah mangga, es buah mangga dan lain sebagainya. Limbah kulit mangga dapat diolah menjadi camilan yang enak sekaligus bermanfaat bagi kesehatan. Kulit buah mangga banyak mengandung vitamin A yang berkhasiat untuk membantu menghilangkan jerawat, dan sebagai antioksidan alami bagi tubuh.  
Mangga merupakan salah satu komoditas unggulan dan bernilai ekonomis tinggi di Indonesia. Data proyeksi produksi mangga di Indonesia menunjukkan selama kurun waktu tahun 2014-2018 produksi mangga terus mengalami peningkatan, pada tahun 2018 produksi mangga diproyeksikan. Daun mangga merupakan bagian tumbuhan yang sangat penting yang tumbuh pada batang. Daun mangga berwarna hijau yang disebut klorofil bagian atas daun hijau mengkilat dan bagian bawah daun, bewarna hijau muda. Daun mangga tunggal, dengan letak tersebar, tanpa daun penumpu. Daun mangga mempunyai kesamaan bentuk dan warna hampir sama satu sama lain. Sehingga dari kasat mata kita susah untuk membedakan antara jenis pohon mangga yang satu dengan yang lain walaupun berbeda jenisnya. Buah mangga merupakan salah satu buah musiman yang sangat digemari baik sebagai buah segar maupun dalam bentuk olahannya. Selain rasanya yang enak, buah mangga merupakan sumber gizi yang baik untuk kesehatan.
Daging buah mangga yang berwarna kuning oranye banyak mengandung vitamin A yang sangat dibutuhkan oleh tubuh. Kandungan vitamin A dalam mangga berkisar antara 1.200 –16.400 si. Mangga dengan kandungan vitamin A tertinggi adalah mangga gedong (16.400 si). Selain vitamin A, mangga juga mengandung vitamin C berkisar antara 6-30 mg/100g buah. Mangga (Mangifera indica L) merupakan komoditas hortikultura yang banyak dikembangkan karena mempunyai peluang ditinjau dari aspek pasar, nilai ekonomi, areal pengembangan dan dukungan ketersediaan teknologi maupun kandungan gizinya. Selain itu buah mangga juga banyak digemari konsumen karena dapat dikonsumsi segar maupun dalam bentuk olahan.  Seperti halnya buah-buahan yang lainnya, buah mangga mempunyai daya simpan yang singkat, penanganan pasca panen yang kurang hati – hati akan memperbesar jumlah kerusakan.

1.2  Rumusan Masalah
1.      Apa itu tanaman mangga (Mangifera indica) ?
2.      Apa saja kandungan yang dimiliki tanaman mangga  (Mangifera indica) ?
3.      Bagaimana manfaat Mangga (Mangifera indica) ?

1.3  Tujuan
1.      Untuk mengetahui penjelasan mengenai tanaman Mangga (Mangifera indica).
2.      Untuk mengetahui kandungan yang dimiliki tanaman mangga
(Mangifera indica).
3.      Untuk mengetahui manfaat Mangga (Mangifera indica)

1.4  Manfaat
Paper ini diharapkan dapat memberikan informasi mengenai Tanaman Mangga (Mangifera indica) sebagai salah satu komoditas MPTS yang bernilai ekonomis. Selain itu, diharapkan penelitian ini dapat dijadikan sebagai rujukan bagi penelitian lanjutan/ penelitian lain yang sejenis dan menyediakan informasi bagi pihak-pihak yang berminat menanamkan modal usaha dalam pembangunan hutan rakyat dengan sistem bagi hasil maupun bantuan sarana prasarana terkait.



BAB II
ISI  
2.1 Tanaman Mangga (Mangifera indica)
Tanaman mangga ialah tanaman buah tahunan berupa pohon yang berasal dari negara India. Tanaman ini kemudian menyebar ke wilayah Asia Tenggara termasuk Malaysia dan Indonesia. Tanaman mangga berasal dari famili Anarcadiaceae, genus Mangifera, species Mangifera indica. Genus dari keluarga Anacardiaceae yang berasal dari Asia Tenggara tercatat ada 62 spesies enam belas spesies diantaranya memiliki buah yang dapat dimakan, tetapi hanya spesies Mangifera caesia, Jack., Mangifera foetida, Lous., Mangifera odorata, Grift., dan Mangifera indica, L. yang biasa dimakan. Diantara keempat spesies mangga yang dapat dimakan tersebut, yang memiliki jenis paling banyak adalah Mangifera indica, L. sebagian dari mangga tersebut terpenting memiliki aroma yang cukup kuat. Pohon mangga termasuk tumbuhan tingkat tinggi yang struktur batangnya (habitus) termasuk kelompok arboreus, yaitu tumbuhan berkayu yang mempunyai tinggi batang lebih dari 5 m. Mangga bisa mencapai tinggi
10-40 m
(Oktavianto dkk., 2015).
Mangga merupakan salah satu buah tropis unggulan yang digemari oleh masyarakat di dunia. The Best Loved-Tropical, mendampingi popularitas durian sebagai King of Fruit. Indonesia, termasuk Jawa Timur merupakan pusat dan sumber dari berbagai varietas buah tropika beserta keaneka ragaman hayatinya.  Mangga tumbuh berupa pohon berbatang tegak, bercabang banyak, dan bertajuk rindang hijau sepanjang tahun. Tinggi pohon dewasa bisa mencapai 10-40 m. umur pohon bisa mencapai 100 tahun lebih. Morfologi pohon mangga terdiri atas akar, batang, daun, dan bunga. Bunga menghasilkan buah dan biji (plok) yang secara generatife dapat tumbuh menjadi tanaman baru. Kulit batangnya tebal dan kasar dengan banyak celah-celah kecil dan sisik-sisik bekas tangkai daun. Warna pepagan (kulit batang) yang sudah tua biasanya coklat keabuan, kelabu tua sampai hampir hitam. Akar tunggang pohon mangga sangat panjang, dapat mencapai 6 m dalamnya. Pemanjangan akar tunggang akan berhenti kalau ujung akar telah mencapai permukaan air tanah (Ningsih dkk., 2017).
Sesudah fase perpanjangan akar tunggang berhenti, lalu bebentuk akar cabang dibawah makin sedikit. Paling banyak akar cabang terdapat pada kedalaman 30-60 cm dibawah permukaan tanah. Daun tunggal, dengan letak tersebar, tanpa daun penumpu. Panjang tangkai daun bervariasi dari 1,25-12,5 cm, bagian pangkalnya membesar dan pada sisi sebelah atas ada alurnya. Aturan letak daun pada batang (phylloyaxy) biasanya 3/8, tetapi makin mendekati ujung, letaknya makin berdekatan sehingga nampaknya seperti dalam lingkaran. Helai daun bervariasi namun kebanyakan berbentuk jorong sampai lanset, 2-10 × 8-40 cm, agak liat seperti kulit, hijau tua berkilap, berpangkal melancip dengan tepi daun bergelombang dan ujung meluncip, dengan 12-30 tulang daun skunder. Beberapa variasi bentuk daun mangga yaitu: lonjong dan ujungnya seperti mata tombak; berbentuk bulat telur, ujungnya runcing seperti mata tombak; berbentuk segi empat, tetapi ujungnya runcing; berbentuk segi empat, ujungnya membulat. Daun yang masih muda biasanya bewarna kemerahan, keunguan atau kekuningan; yang di kemudian hari akan berubah pada bagian permukaan sebelah atas menjadi hijau mengkilat, sedangkan bagian permukaan bawah berwarna hijau muda. Umur daun bisa mencapai 1 tahun atau lebih (Dewangga dkk., 2014).
Buah mangga (Mangifera indica)  bisa di identifikasi berdasarkan ukuran dan bentuk malai, warna bunga, dan tangkai malai bunga. Bentuk bunga mangga secara umum adalah piramida dengan panjang 12 - 49 cm dan diameter 13 - 40 cm. Panjang bunga mangga arumanis dapat mencapai12 - 49 cm dengan diameter 10 - 43 cm. keragaman ukuran bunga mangga tersebut kemungkinan disebabkan oleh iklim, Teknik budidaya, dan kondisi pohon yang berbeda. Bunga mangga yang berbentuk malai terbentuk dari ranting terminal, terdiri atas beberapa ribu individu bunga. Dalam satu malai terdapat bunga sempurna dan bunga jantandengan proporsi 1:4 sampai 1:2. Struktur bunga jantan terdiri atas tangkai bunga, kelopak, mahkota, filamen (terdiri atas 5 buah dengan ukuran panjang yang berbeda, filamen yang panjang mempunyai serbuk sari subur sedangkan filamen yang pendek serbuk sarinya tidak subur), kepala sari (terdiri atas kantong dan serbuk sari), dan dasar bunga. Bunga sempurna terdiri atas tangkai bunga, kelopak, mahkota, tangkai putik, ovari (bakal buah), dan dasar bunga (Soetjipto dkk., 2015).
Tanaman mangga (Mangifera indica) merupakan tanaman hortikultur yang mempunyai nilai ekonomis tinggi karena memiliki kandungan yang cukup tinggi bagi kesehatan manusia. Komposisi buah mangga 80% air dan 15% sampai 20% gula, serta berbagai macam vitamin antara lain vitamin A, B dan C. Mangga mempunyai banyak keanekaragaman, hal ini dapat dilihat secara morfologi daun, bunga dan buah yang kesemuanya mempunyai bentuk atau bangun, ukuran dan warna yang bermacam-macam. Daun mangga merupakan bagian tumbuhan yang sangat penting yang tumbuh pada batang. Daun mangga berwarna hijau yang disebut klorofil bagian atas daun hijau mengkilat dan bagian bawah daun, bewarna hijau muda. Daun mangga tunggal, dengan letak tersebar, tanpa daun penumpu. Daun mangga mempunyai kesamaan bentuk dan warna hampir sama satu sama lain. Sehingga dari kasat mata kita susah untuk membedakan antara jenis pohon mangga yang satu dengan yang lain walaupun berbeda jenisnya (Andriani dkk., 2019).
Mangga (Mangifera indica) sangat digemari dimasyarakat untuk ditanam baik dalam skala kecil maupun skala besar. selain bernilai ekonomi, pohon mangga berguna untuk penghijauan lingkungan, buah mangga sendiri mempunyai banyak manfaat dan nilai gizi yang tinggi bagi manusia. Namun dalam menentukan pohon mangga yang akan ditanam, masyarakat masih menggunakan metode menerka jenis pohon yang akan ditanamnya. Karena itu masyarakat kadang tertipu dengan pohon mangga yang ditanam, dikarenakan pohon mangga mempunyai banyak jenis yang berbeda. Pengenalan jenis pohon mangga adalah salah satu bidang penelitian dengan banyak aplikasi yang dapat menerapkanya. Salah satunya adalah pengenalan pohon, yaitu cara klasifikasi jenis pohon mangga gadung dan curut berdasarkan tekstur daun (Mukti dkk., 2018).
Mangga terdiri dari beberapa varietas salah satunya adalah mangga manalagi. Kadar air buah segar relatif tinggi sehingga dapat mempercepat terjadinya kerusakan, terutama akibat pengaruh biologis (seperti jamur dan bakteri) yang mengakibatkan kebusukan. Oleh karena itu pengolahan buah untuk memperpanjang masa simpan menjadi sangat penting. Buah dapat diolah menjadi berbagai bentuk minuman dan makanan salah satunya yaitu manisan mangga kering. Manisan buah adalah buah yang diawetkan dengan gula kadar tinggi untuk memberikan atau menambahkan rasa manis dan mencegah tumbuhnya mikroorganisme (Niswah dkk., 2016).
Mangga (Mangifera indica L.) adalah buah tropikal dengan nilai nutrisi dan nilai medis yang tinggi. Penelitian mengenai ekstrak masing-masing bagian tumbuhan mangga telah banyak dilakukan, mulai dari penelitian mengenai ekstrak kulit batang mangga hingga kulit buah mangga. Kulit mangga setelah diteliti ternyata mengandung senyawa aktif penting seperti mangiferin, flavonoid, asam fenol, karotenoid, dietary fibre, dan beberapa enzim aktif. Flavonoid adalah senyawa fenol yang diteliti memiliki banyak fungsi di bidang medis, salah satunya sebagai antioksidan dan antibakteri. Penelitian lain bahkan menunjukkan bahwa senyawa flavonoid juga mampu bekerja menghambat tromboksan A2 melalui jalur penghambatan enzim siklooksigenase 1 (COX-1).

2.2 Kandungan Tanaman Mangga (Mangifera indica)
Kandungan fitokimia tanaman mangga (Mangifera indica L.) kebanyakan berupa senyawa fenol. Senyawa ini dapat ditemukan dari berbagai bagian tanaman seperti buah, biji, daun dan kulit batang. Kandungan fitokimia ini tidak hanya berbeda di setiap lokasi geografis tanaman, tetapi juga berbeda di setiap bagiannya. Komposisi kimia tanaman mangga juga berbeda berdasarkan lokasi penanaman, varietas dan tingkat kematangannya. fraksi etil asetat daun mangga mengandung banyak senyawa fenol dan flavonoid. Senyawa yang terkandung dalam buah mangga yaitu lupeol, mangiferin, asam gallat, asam klorogenat, asam vanili, asam ferulat, asam askorbat dan senyawa karotenoid. senyawa yang terdapat dalam biji mangga. Senyawa tersebut antara lain berupa asam amino, senyawa fenolat, dan asam lemak. Beberapa asam amino yang terkandung dalam biji mangga yaitu leusin, isoleusin, metionin, lisin, valin, fenilalanin dan treonin. Senyawa fenolat yang terkandung antara lain tannin, asam gallat, coumarin, vanilin, mangiferin, asam ferulat dan senyawa tak teridentifikasi
lain
(Mahdiyah dkk., 2019)
Kulit batang memiliki kandungan alkaloid dan flavonoid yang tinggi. Beberapa senyawa fenolat yang terdapat dalam kulit batang mangga yaitu kuersetin, catechin, epicatechin dan mangiferin. Sedangkan kandungan senyawa fenolat dan turunan benzyl ester antara lain asam gallat, asam metil ester gallat, asam propil ester gallat dan asam 3,4- dihidrobenzoat. Kulit batang mangga juga mengandung senyawa mudah menguap seperti aromandrene, α-guainine, β-selinene, hinesol, β-eudesmol, β-sitosterol, β-campesterol. dosis ekstrak daun mangga gedong gincu sebanyak 600 mg/200 gr. Dimana ekstrak daun mangga gedong gincu mengurangi kadar glukosa darah sebesar
54, 64%
(Baswarsiati dan Yuniarti, 2007)
Senyawa mangiferin yang diisolasi dari tanaman mangga memiliki aktivitas inhibisi αamilase dan α-glukosidase. Inhibisi kedua enzim ini menyebabkan berkurangnya kadar glukosa setelah makan karena penghambatan proses hidrolisis dan penyerapan karbohidrat di usus. Mangifera indica memiliki aktivitas sitotoksik terhadap sel kanker payudara yang bergantung pada dosis. Ekstrak daun mangga dengan dosis 200 μg/mL memberikan efek sitotoksisitas terhadap semua jenis kanker yang telah diuji dan hampir tidak memberikan efek toksisitas terhadap sel normal. Senyawa mangiferin yang banyak ditemukan di tanaman mangga ditemukan memiliki efek induksi apoptosis pada sel leukimia myeloid akut manusia garis HL-60 dengan menekan aktivasi NF-κB dan ekspresi Bcl-xL dan XAIP. Ekstrak metanol kulit batang mangga ditemukan memiliki aktivitas antibakteri terhadap Staphylococcus aureus. Ekstrak tanaman ditemukan memiliki MIC sebesar 0,62 mg/mL hingga 4,17 mg/mL pada metode dilusi agar tergantung dengan dosis yang digunakan. Tetapi, hasil ini masih tidak seefektif kontrol yang digunakan yaitu ampisilin. Ekstrak ditemukan memiliki efek bakteriostatik pada konsentrasi rendah. Senyawa yang diduga berpengaruh pada aktivitas ini adalah senyawa alkaloid dan tanin yang terkandung dalam ekstrak.
Selain kulit batang kulit buah Mangga variasi Arum Manis memiliki aktivitas antibakteri terhadap bakteri MRSA (Methicillin Resistant Staphylococcus aureus). Selain terhadap S. aureus, ekstrak tanaman mangga ditunjukkan memiliki aktivitas antibakteri terhadap Salmonella typhi termasuk MDR S. Typhi. Esktrak Mangifera indica diketahui memiliki aktivitas antidiare. Hal ini dilakukan dengan menghambat motilitas usus melalui mekanisme simpatomimetik ekstrak dengan dosis 100 mg/kg BB memiliki efektivitas mirip dengan kontrol positif yang digunakan. Terjadi pengurangan pada kadar air dan jumlah total kotoran basah. Terjadi pula peningkatan aktivitas Na+ -K+ ATPase pada usus halus. Ekstrak kulit batang, biji, dan polisakarida Mangifera indica diketahui memiliki efek renoprotektif terhadap induksi arsenik, CCl4, dan siklofosfamid.
Ekstrak metanol Mangifera indica memberikan efek pengurangan kadar kolesterol dalam darah. Pemberian ekstrak air Mangifera indica menyebabkan peningkatan kadar HDL darah dan penurunan total kolesterol serum, trigliserida, LDL, dan VLDL. Senyawa mangiferin yang dapat diisolasi dari tanaman mangga ditunjukkan dapat menurunkan kadar asam lemak bebas (ALB) dan trigliserida (TG) dalam darah. Suatu randomized controlled trial pada pasien obesitas menunjukkan senyawa mangiferin dapat mengurangi kadar ALB dan TG melalui kenaikan oksidasi ALB. ekstrak akuades Mangifera indica varietas Vimang memberikan efek analgesik yang mirip dengan Sodium Naproxen pada dosis 1000 mg/kg. Mangga memiliki aktivitas antioksidan dan antikanker dimana aktivitasnya diukur dengan memeriksa efek pada kinetika siklus sel dan kemampuan untuk menghambat induksi kimia transformasi neoplastik dari garis sel mamalia.
Dalam daging buah mangga terkandung berbagai macam zat gizi yang bermanfaat bagi kesehatan. Kandungan antioksidan seperti karotenoid (vitamin A) dan vitamin C berperan dalam pencegahan penyakit kanker, Semeritara itu, kandungan kalium dan vitamin C berperan dalam permeliharaan kesehatan jantung. Senyawa fenol seperti asam ellagat, gelatonin, dan mangiferin yang terkandung dalam mangga dapat memberikan kontribusi bermanfaat terhadap kesehatan. Senyawa fenol ini dipercaya berguna untuk memperbaiki sel-sel yang teroksidasi oleh radikal bebas penyebab kanker dan penyakit degeneratif Iainnya. Selain berperan sebagai antikanker, senyawa fenol seperti mangiferin dan asam ellagat berperan sebagai antiinflamasi yang dapat membantu meningkatkan sistem imunitas tubuh (Herwin dan Meilani, 2016).
Buah manga selain memiliki sifat rasa yang manis dan menyegarkan, ternyata buah manga juga mengandung banyak nutrisi yang bermanfaat bagi kesehatan tubuh. Hancuran daging buah mangga kaya akan gizi, mengandung berbagai vitamin dan mineral. Buah mangga sebagai bahan makanan terdiri dari 80% air dan 15-20% gula serta berbagai macam vitamin, antra lain vitamin A, B1, B2, dan C. Buah mangga memiliki khasiat bagi kesehatan karena mengandung serat dan sumber pengobatan yang baik. Seharusnya buah mangga dapat dikembangkan menjadi berbagai macam produk olahan (Sibuea dkk., 2016).
Total fenol yang ditemukan pada kulit buah mangga lebih banyak dibanding total fenol di daging buah mangga, dengan total fenol 4066 mg (GAE)/kg. Komposisi polifenol pada kulit mangga termasuk mangiferin, kuersetin, kaemferol dan rhamnetin. Kuersetin, salah satu bagian dari flavonoid, merupakan komposisi terbesar dalam kulit mangga beserta dengan mangiferin. Meskipun kandungan kuersetin dan mangiferin terbesar, pada penelitian Berardini, kapasitas antioksidan dari ekstrak kulit mangga terjadi bukan hanya sari satu komponen melainkan dari interaksi sinergis dari seluruh komponen di dalam kulit mangga. Kulit mangga matang dan mentah juga memiliki total fenol yang berbeda. Kulit mangga matang memiliki total fenol yang lebih banyak dibanding total fenol pada mangga mentah pada ekstrak Aseton. Sedangkan pada ektrak aqueous, ekstrak buffer dan ekstrak alkohol, total fenol pada mangga mentah menunjukkan jumlah yang lebih besar. Total fenol pada kulit mangga mentah lebih banyak dibandingkan total fenol pada kulit mangga
matang
(Fridayanti, 2016).

2.3 Manfaat Mangga (Mangifera indica)
            Buah mangga digemari di Indonesia karena dapat dikonsumsi segar maupun dalam bentuk olahan serta mengandung vitamin C, serat tinggi dan pektin untuk menurunkan kolesterol dalam darah. Kandungan vitamin A bermanfaat untuk kesehatan mata. Kandungan vitamin C dan kadar karotenoid untuk meningkatkan sistem imun. Kandungan antioksidan pada buah mangga adalah astragalin, asam galat, quercetin, methygallat, fisetin dan isoquercitrin yang berguna untuk mencegah penyakit kanker. Buah mangga mengatur keseimbangan kadar insulin karena kandungan indeks glikemik sangat rendah sehingga dapat dikonsumsi oleh penderita diabetes
Tanaman mangga telah banyak digunakan dalam pengobatan ayuverda India. Selain itu, berbagai bagian tanaman mangga telah banyak digunakan diseluruh dunia sebagai pengobatan tradisional. Berikut ini adalah aktivitas farmakologis tanaman mangga yang telah diteliti. Ekstrak etanol daun mangga dapat mengurangi kadar glukosa dalam darah Aktivitas hipoglikemik ini berbeda dari setiap varian tanaman Mangifera indica L. Pengujian antidiabetes dari pucuk daun mangga cengkir dan didapatkan pemberian ekstrak pucuk sebanyak 105 mg/kg BB mencit memberikan pengaruh yang sama dengan metformin 104,65 mg/kg BB dengan penurunan kadar glukosa sebanyak 121,6 mg/dL.
Bagian tumbuhan Mangga yang paling penting dan berguna dalam kehidupan manusia sehari-hari, terutama bagi kesehatan adalah getah, kulit batang, buah muda, dan buah masak. Getah Mangga dari bagian batang atau ranting dapat dimanfaatkan sebagai obat tradisional untuk penyakit luar, seperti eksim, kudis, dan gatal-gatal. Penyakit rematik atau persendian nyeri dapat diobati dengan menggunakan kulit batang pohon Mangga. Buah Mangga muda selain dapat digunakan sebagai manisan, juga berkhasiat sebagai obat beberapa jenis penyakit. Di India Mangga yang masih hijau digunakan sebagai obat gangguan darah, empedu, dan saluran pencernaan. Memakan buah Mangga muda secara teratur mempunyai daya penyembuh gangguan darah, karena menambah kelenturan pembuluh darah, membantu pembentukan sel-sel baru, mencegah pendarahan, dan menyembuhkan sariawan. Selain itu buah Mangga muda dapat berkhasiat untuk mengatasi diare, disentri, wasir dan sembelit.
          Buah mangga digemari di Indonesia karena dapat dikonsumsi segar maupun dalam bentuk olahan serta mengandung vitamin C, serat tinggi dan pektin untuk menurunkan kolesterol dalam darah. Kandungan vitamin A bermanfaat untuk kesehatan mata. Kandungan vitamin C dan kadar karotenoid untuk meningkatkan sistem imun. Kandungan antioksidan pada buah mangga adalah astragalin, asam galat, quercetin, methygallat, fisetin dan isoquercitrin yang berguna untuk mencegah penyakit kanker. Buah mangga mengatur keseimbangan kadar insulin karena kandungan indeks glikemik sangat rendah sehingga dapat dikonsumsi oleh penderita diabetes.
            Salah satu tanaman yang berpotensi sebagai tanaman obat adalah tanaman mangga. Tanaman mangga (Mangifera indica L.) merupakan tanaman yang berpotensi sebagai obat herbal karena mengandung senyawa metabolit sekunder. tanaman mangga yaitu daun mangga sebagai antioksidan, antimikroba, dan antitumor. Selain flavonoid tanaman mangga juga mengandung saponin, tanin galat, tanin katekat, kuinon dan steroid atau tripenoid. Pada penelitian ini ekstrak metanol daun mangga digunakan sebagai antijamur. Mangga merupakan tanaman yang melimpah dan bagian daun tanaman tersebut kurang dimanfaatkan oleh masyarakat. Oleh karena itu, penelitian tentang daun tanaman mangga ini sangat menarik untuk dilakukan. Kemampuan ekstrak daun mangga
(Mangifera indica L.)
.
            Tanaman mangga termasuk dalam tanaman obat karena banyak mengandung manfaat. Bagian tanaman mangga banyak mengandung manfaat baik pada bagian akar, kulit, daun, bunga, buah maupun biji. Bagian akar dan kulit daun mangga dapat dimanfaatkan antara lain sebagai zat antiinflamasi, antisembelit, sebagai obat sembelit, serta dapat dimanfaatkan sebagai obat luka. Bagian bunga daun mangga dapat dimanfaatkan sebagai antisembelit, mengobati bisul, luka, diare, disentri kronis serta anemia. Bagian buah pada tanaman ini banyak dimanfaatkan sebagai sumber vitamin yang dibutuhkan bagi tubuh. Selain sebagai sumber vitamin, buah mangga dapat bermanfaat sebagai obat pencahar, sebagai obat pemberhenti pendarahan pada rahim, paru-paru, usus, kekurusan dan anemia. Selain itu biji mangga dapat digunakan sebagai produk bioetanol yang berasal dari sumber daya hayati.
            Daun pada tanaman mangga juga banyak mengandung manfaat, diantaranya antara lain penyembuhan luka, bisul, diare, sera disentri. Daun mangga yang mengandung banyak senyawa kimia telah diteliti oleh beberapa peneliti memiliki fungsi dan manfaat antara lain sebagai antioksidan, analgesik, antidiabetes, anti inflammatory, antitumor, antimikroba, dan peningkat stamina atau daya tahan tubuh. Ekstrak metanol daun mangga terbukti dapat menghambat pertumbuhan Candida albicans dikarenakan dalam daun mangga terdapat kandungan metabolit sekunder yang memiliki berbagai khasiat salah satunya dalam menghambat pertumbuhan jamur atau sebagai antifungi. Ekstrak daun mangga mampu menghambat petumbuhan miselium terhadap jamur Aspergillus flavus, Rhizopus stolonifer dan Penicillium digitatum dengan konsentrasi hambat maksimum 60%.
            Mangga Arumanis mempunyai nilai ekonomi yang cukup tinggi dan berpeluang untuk diekspor ke beberapa negara, antara lain Singapura dan Saudi Arabia. Dengan penampilan warna buah yang unik dan menarik serta rasa buah yang segarmanis dan banyak mengandung air maka mangga Arumanis dapat dimanfaatkan sebagai buah segar maupun olahan. Mangga Podang dapat diolah menjadi beberapa produk seperti jus, sirup, dodol, dan puree. Bila produksi melimpah maka mangga. Arumanis dapat diolah sehingga masyarakat akan mendapatkan nilai tambah dari hasil olahan. Harga mangga Podang pada tahun 2003-2004 di tingkat petani berkisar antara Rp 1.500-2.000/kg, sedangkan harga di tingkat konsumen mencapai Rp 3.500-10.000/kg bergantung pada mutu buah dan tujuan pasarnya (pasar tradisional atau swa- layan). Dengan harga rata-rata di tingkat petani Rp 2.000/kg maka pendapatan yang diperoleh dari mangga Podang pada tahun 2003 di Kabupaten Kediri adalah 10.616.500 kg x Rp 2.000 = Rp 21.233.000.000.
            Produk utama dari tanaman mangga adalah buahnya yang biasanya dikonsumsi dalam bentuk segar maupun berbagai produk olahannya. Tetapi selain buah, komponen lainnya yang juga berperan penting adalah daun mangga yang dapat dimanfaatkan sebagai tanaman obat alternatif. Ekstrak daun mangga dilaporkan memiliki kandungan alkaloid, senyawa fenol, saponin, kaumarin, tanin, flavonoid, triterponoid, steroid, dan glikosid yang berfungsi sebagai senyawa antimikrobia yang dapat menghambat pertumbuhan bakteri diantaranya Escherichia coli, Staphylococuus aureus, Klebsiella pneumonia, Listeria monocytogeneses, Campylobacter jejuni, Candida spp, Zygosaccharomyces spp, Fusarium spp, Aspergillus spp, Rhizopus spp dan Penicillium spp. Selain mengandung nilai nutrisi yang tinggi, ekstrak buah mangga menunjukkan adanya sifat fungsionalnya seperti antispasmodik, antipiretik, anti inflamasi, antimikrobial, antijamur, dislipidemia, aktivitas antioksidan dan antidiare, sehingga berdasarkan sifat ini mangga dapat dikonsumsi sebagai nutraceutical food atau makanan fungsional. Penggunaan ekstrak daun mangga yang bagi menjadi beberapa konsentrasi diharapkan memberikan efek yang nyata terhadap penghambatan pertumbuhan bakteri patogen tersebut.
            Biji mangga (Mangifera indica L.) merupakan salah satu komoditas penghasil karbohidrat yang cukup tinggi dan berperan sebagai cadangan pangan ataupun sebagai bahan pangan alternative. Pengolahan biji mangga menjadi tepung dapat meningkatkan diversifikasi produk pangan dan dapat memberi nilai tambah dan mengangkat biji mangga menjadi komoditas yang benilai tinggi. Selain itu, pengolahan biji mangga menjadi tepung diharapkan dapat mengurangi jumlah biji mangga yang rusak atau dibuang percuma karena dapat berguna sebagai bahan utama olahan produk pertanian. Berbagai jenis olahan yang dapat dapat dihasilkan dari bahan baku buah mangga adalah puree, selai/jam, jelly, sari buah, sirup buah, manisan buah, manisan kering, asinan dan dodol. Selain buah, biji mangga dapat diolah menjadi tepung yang dapat digunakan sebagai bahan baku pembuatan berbagai jenis kue maupun sebagai pangan pokok.



2.4 Budidaya Mangga (Mangifera indica)
Produksi mangga pada saat ini di Indonesia belum mampu memenuhi permintaan pasar, khususnya pasar luar negeri. Ketidakmampuan ini bukan hanya disebabkan produktivitasnya yang rendah tetapi juga kualitasnya masih banyak yang di bawah standar ekspor. Kondisi ini terjadi dikarenakan teknologi budidaya yang diterapkan masih belum optimal dan keterbatasan modal yang dimiliki, sehingga diperlukan peran penting dari pemerintah untuk mengatasi permasalah tersebut di atas supaya komoditas mangga dapat menjadi komoditas ekspor yang bernilai tinggi dan dapat menambah pemasukan devisa negara.
Tanaman mangga cocok untuk tumbuh di daerah dengan musim kering 2 – 8 bulan/tahun, dengan kondisi optimal 3 bulan/tahun, masa kering diperlukan sebelum dan sewaktu berbunga. Curah hujan yang dibutuhkan tanaman mangga antara 750- 2.250 mm per tahun. Daerah dengan suhu antara 24 - 27° C merupakan tempat tumbuh yang baik untuk tanaman buah ini. Tanah yang baik untuk budidaya mangga adalah gembur mengandung pasir dan lempung dalam jumlah yang seimbang. Memiliki drainase yang baik. Derajat keasaman tanah (pH tanah) yang cocok adalah 5.5- 7.5. Jika pH di bawah 5,5 sebaiknya dilakukan pengapuran dengan dolomit. Kedalaman air tanah 50 – 150 cm. Tanaman mangga termasuk tanaman dataran rendah. Tanaman ini dapat tumbuh dan berkembang baik di daerah dengan ketinggian antara 0-300 m di atas permukaan laut. Meskipun demikian, tanaman ini juga masih dapat tumbuh sampai ketinggian 1.300 m di atas permukaan laut
Penyediaan bibit merupakan tahap awal dari produksi tanaman mangga. Tanaman mangga dapat diperbanyak secara vegetatif maupun secara generatif. Untuk penanaman dalam skala luas, pembibitan/perbanyakan secara vegetatif lebih menguntungkan dibandingkan secara generatif. Dalam proses perbanyakan tanaman mangga, beberapa contoh perbanyakan yang biasa dilakukan diantaranya adalah : 1. Perbanyakan dengan Biji. Biji yang digunakan harus berasal dari tanaman yang sehat, kuat dan buahnya berkualitas, biji dikeringanginkan dan kulitnya dibuang. Siapkan kotak persemaian ukuran 100 x 50 x 20 cm dengan media tanah kebun dan pupuk kandang (1 : 1), biji ditanam pada jarak 10 x 20 cm, persemaian dapat juga dilakukan di kebun dengan jarak tanam 30 x 40 atau 40 x 40 cm di atas tanah yang gembur. Persemaian diberi naungan dari plastik atau sisa-sisa tanaman, tetapi jangan sampai udara di dalam persemaian menjadi terlalu lembab. Biji ditanam dengan perut ke arah bawah supaya akar tidak bengkok. Selama penyemaian, bibit tidak boleh kekurangan air. Pada umur 2 minggu bibit akan berkecambah. Jika dari 1 biji terdapat lebih dari 1 anakan, sisakan hanya satu yang benar-benar kuat dan baik. Bibit di kotak persemaian harus dipindahtanamkan ke dalam polybag jika tingginya sudah mencapai 25 - 30 cm. § Seleksi bibit dilakukan pada umur 4 bulan, bibit yang lemah dan tumbuh abnormal dibuang.
Perbanyakan secara okulasi merupakan perbanyakan bibit yang terbaik diantara teknik perbanyakan bibit yang lain. Okulasi merupakan penempelan tunas dari batang atas yang buahnya berkualitas ke batang bawah yang struktur akar dan tanamannya kuat. Syarat-syarat okulasi adalah :  Batang bawah untuk okulasi adalah bibit di persemaian yang sudah berumur 9-12 bulan. Batang atas yang digunakan sebagai mata tempel/entres dipilih dari pohon mangga yang unggul. Setelah penempelan, stump (tanaman hasil okulasi) dipindahkan ke kebun pada umur 1,5 tahun. Okulasi dilakukan di musim kemarau agar bagian yang ditempel tidak busuk.
Pencangkokan Batang yang akan dicangkok memiliki diameter 2,5 cm dan berasal dari tanaman berumur > 1 tahun. Panjang sayatan cangkok adalah 5 cm. Setelah sayatan diberi tanah dan pupuk kandang (1:1), lalu dibungkus dengan plastik atau sabut kelapa.
Pengendalian Gulma dilakukan sedikitnya tiga kali dalam setahun. Kegiatan ini dapat dilakukan secara kimiawi (dengan herbisida sistemik), maupun secara manual dengan menggunakan parang. Gulma yang telah dibabat/tebas dapat dibenamkan atau dibuang ke tempat lain agar tidak tumbuh lagi.  Penyiangan juga bisa dilakukan pada waktu penggemburan dan pemupukan. Penggemburan dan Pembubunan Tanah Tanah yang padat dan tidak ditumbuhi rumput di sekitar pangkal batang perlu digemburkan, biasanya pada awal musim hujan. Hal ini dilakukan supaya tanah di sekitar batang tanaman mangga dapat menyerap air hujan dengan baik.. Untuk penggemburan tanah di kebun mangga cangkokan jangan dilakukan terlalu dalam. Sedangkan kegiatan pembumbunan dilakukan supaya tidak mudah terjadi erosi pada tanah di sekitar tanaman mangga dan juga untuk memperkokoh kedudukan tanaman mangga sehingga tidak mudah tumbang diterpa angin.
Pemangkasan bertujuan untuk membentuk kanopi (pangkas bentuk) yang baik dan meningkatkan produksi (pangkas produksi). Ada 3 tahap pemangkasan bentuk yang biasanya dilakukan pada tanaman mangga, yaitu  Tahap I : dilakukan pada umur satu tahun setelah tanam pada musim hujan dengan cara memotongbatang setinggi 50 cm – 60 cm dari permukaan tanah dan pemotongan di atas bidang sambungan. Dari cabang yang tumbuh dipelihara tiga cabang yang arahnya menyebar. Tahap II : dilakukan pada ketiga cabang yang tumbuh tersebut setelah berumur 2 tahun, caranya menyisakan 1 - 2 ruas/pupus. Tunas yang tumbuh pada masing-masing cabang dipelihara 3 tunas, jika lebih dibuang. Tahapan pemangkasan tersebut akan diperoleh pohon dengan rumus cabang 1 - 3 – 9 .Tahap III : dilakukan pada umur tiga tahun setelah tanam, caranya sama seperti pada tahap II, tetapi tunas yang tumbuh dipelihara semua untuk produksi.
Pemberian pupuk, baik organik maupun anorganik di aplikasikan melingkari batang tanaman di bawah tajuk tanaman. Perbedaannya, pupuk organik dibenamkan di dalam tanah sedangkan pupuk anorganik cukup ditaburkan tipis di atas permukaan tanah. a. Dosis Aplikasi Pupuk Organik (Pupuk Kandang).  Umur tanaman 1 - 2 tahun: 10 kg tepung tulang, 5 kg pupuk kandang.  Umur tanaman 2,5 – 8 tahun: 0,5 kg tepung tulang, 2,5 kg abu. Umur tanaman 9 tahun : tepung tulang dapat diganti pupuk kimia SP-36, 50 kg pupuk kandang, 15 kg abu.  Umur tanaman > 10 tahun: 100 kg pupuk kandang, 50 kg tepung tulang, 15 kg abu.


BAB III
PENUTUP 
3.1  Kesimpulan
1.      Tanaman mangga ialah tanaman buah tahunan berupa pohon yang berasal dari negara India. Tinggi pohon dewasa bisa mencapai 10-40 m. umur pohon bisa mencapai 100 tahun lebih. Morfologi pohon mangga terdiri atas akar, batang, daun, dan bunga. Daun tunggal, dengan letak tersebar, tanpa daun penumpu. Panjang tangkai daun bervariasi dari 1,25-12,5 cm, bagian pangkalnya membesar dan pada sisi sebelah atas ada alurnya.
2.      Buah Mangga memiliki beberapa kandungan kimia yang ada didalamnya antara lain adalah sebagai berikut: fenol, alkaloid,flavonoid, yang tinggi. dalam kulit batang mangga yaitu kuersetin, catechin, epicatechin dan mangiferin.
3.      Ekstrak daun mangga gedong gincu sebanyak 600 mg/200 gr. Kandungan antioksidan seperti karotenoid (vitamin A) dan vitamin C berperan dalam pencegahan penyakit kanker, Semeritara itu, kandungan kalium dan vitamin C berperan dalam permeliharaan kesehatan jantung.
4.      Tanaman mangga memiliki beberapa manfaat yang digunakan masyarakat dimulai dari akar hingga buahnya dapat dimanfaatkan. Pemanfaatan mangga diantara lain adalah sebagai berikut: Bahan olahan pangan, bahan kosmetik, bahan obat-obatan, produk makanan, dll.
5.      Mangga memiliki potensi yang sangat besar sebagai tanaman MPTS yang yang bernilai ekonomis. Hal ini dikarenakan semua bagian tanaman mangga dapat digunakan dan dimanfaatkan.


DAFTAR PUSTAKA
Andriani, R., 2019. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Keputusan Petani Mangga dalam Pemilihan Pasar di Kabupaten Indramayu. Jurnal            Penyuluhan15(2): 286-298.

Baswarsiati dan Yuniarti. 2007. Karakter Morfologis dan Beberapa Keunggulan    Mangga Podang (Mangifera indica L.). Buletin plasma nutfah. 13(2)

Fridayanti, K. D., Komariah, C., dan Firdaus, J. 2017. Efek Ekstrak Kulit Mangga            (Mangifera indica L.) Arumanis terhadap Lama Perdarahan Mencit Putih         Jantan (The Effect of Arumanis Mango (Mangifera indica L.) Peel Extract            on the Bleeding Time of White Male Mice). Pustaka Kesehatan5(1),         20-24.

Herwin, H., dan Meilani, M., 2016. Identifikasi Aktivitas Ekstrak Etanolik Buah   Mangga (Mangifera indica L.) Pada Mencit Jantan (Mus musculus)         Sebagai Produk Imunoglobulin (IgM). As-Syifaa Jurnal Farmasi8(2),             98-104.

Mahdiyah, L. L., dan Husni, P. 2019. Aktibasi Farmakologi Tanaman Mangga       (Mangifera indica L.). Farmaka17(2), 187-194.

Mile, M., Y., 2007. Prinsip-prinsip dasar dalam pemilihan jenis, pola tanam dan      teknik produksi agribisnis hutan rakyat. Info Teknis5(2).

Mukti, G., W., 2017. Peningkatan Nilai Tambah Limbah Kulit Mangga Melalui      Pelatihan Pembuatan Kripik dan Manisan Kulit. Jurnal Pengabdian          Kepada Masyarakat1(3).

Ningsih, D., R., 2017. Ekstrak Daun Mangga (Mangifera indica L.) sebagai            Antijamur Terhadap Jamur Candida albicans dan Identifikasi Golongan             Senyawanya. Jurnal Kimia Riset2(1), 61-68.

Niswah, C., Pane, E. R., dan Irmawati, E. 2016. Pengaruh Pengolahan Buah          Mangga Manalagi Segar (Mangifera Indica L.) Menjadi Manisan Mangga       Kering Terhadap Kadar Vitamin C. Jurnal Biota2(2), 120-123.

Novia, C., Syaiful, S., dan Utomo, D. 2015. Diversifikasi Mangga Off Grade        Menjadi Selai dan Dodol. Teknologi Pangan: Media Informasi dan       Komunikasi Ilmiah Teknologi Pertanian.  6(2).

Nurul, S., Jitno,R., dan Dody, P,. 2005. Variasi Jenis dan Kultivar Mangga Di       Madiun dan Sekitarnya. Jurnal Biodeversitas. 7(1): 39-43       

Oktavianto, Y., Sunaryo, S., dan Suryanto, A. 2015. Karakterisasi Tanaman           Mangga           (Mangifera indica L.) Cantek, Ireng, Empok, Jempol Di Desa Tiron, Kecamatan           Banyakan Kabupaten Kediri. Jurnal Produksi Tanaman3(2).

Salamah, S., 2017. Pemanfaatan Ekstrak Daun Mangga (Mangifera foetida L.)       sebagai Penurun Asam Urat dalam Biji Melinjo. Pemanfaatan Ekstrak      Daun Mangga (Mangifera foetida L.) sebagai Penurun Asam Urat dalam Biji Melinjo. Jurnal Kimia Riset. 1(2).

Sibuea, A. F., Hamzah, F., dan Rossi, E. 2016. Pemanfaatan Buah Mangga            (Mangiferaindical.) Dan Ekstrak Teh Hijau (Cameliasinensis) Dalam Pembuatan Selai. JOM Faperta. 3(1).

Soetjipto, H., Linawati, L., dan Wibowo, N., A. 2015. Upaya Pemanfaatan            Limbah Biji Mangga Menjadi Produk Bernilai Ekonomi Di Desa Kendel Kabupaten Boyolali. Jurnal Abdimas19(1): 25524.






Berikut file word  klik disini
file ppt disini

Komentar

Postingan Populer