PEMANFAATAN TANAMAN KELOR (MORINGA OLEIFERA) SEBAGAI HASIL HUTAN BUKAN KAYU (HHBK)
Tugas Paper Matakuliah Penilaian Hutan Medan, Oktober 2019
PEMANFAATAN TANAMAN KELOR (MORINGA OLEIFERA) SEBAGAI
HASIL HUTAN BUKAN KAYU (HHBK)
Dosen Pengajar:
Dr. Agus Purwoko, S.Hut., M.Si.
Oleh :
Muhammad Khoiri Habibullah
171201080
MNH 5
PROGRAM STUDI KEHUTANAN
FAKULTAS KEHUTANAN
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
2019
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur kita panjatkan kehadirat Tuhan yang Maha Esa yang telah memberikan karunia-Nya kepada penulis sehingga dapat melaksanakan tugas Paper Matakuliah Penilaian Hutan ini dengan baik dan tepat waktu.
Tujuan dari penulisan paper ini yaitu sebagai salah satu penilaian tugas dalam matakuliah Penilaian Hutan, di Program Studi Kehutanan, Fakultas Kehutanan, Universitas Sumatera Utara. Adapun judul paper ini adalah “Tanaman Kelor (Moringa oleifera) Sebagai Hasil Hutan Bukan Kayu (HHBK)” Penulis mengucapkan terima kasih kepada dosen penanggungjawab Mata kuliah Penilaia Hutan, Dr. Agus Purwoko, S.Hut., M.Si. yang telah memberikan materi dengan baik dan benar.
Penulis menyadari bahwa penulisan paper ini masih banyak kesalahan yang terjadi baik dalam penulisan maupun penyajiannya. Oleh karena itu, penulis mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun demi kesempurnaan paper ini.
Medan, Oktober 2019
Penulis
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Laju pertumbuhan di Indonesia semakin tahun semakin meningkat, hal ini tidak sejalan dengan sumber daya alam yang semakin lama semakin berkurang. Terdapat sumberdaya alam yang dapat diperbaruhi dan tidak dapat diperbaruhi baik dari segi kualitas maupun kuantitasnya. Hal ini akan menjadikan sebuah permasalahan bagi Indonesia dimasa yang akan datang. Jumlah angka kelahiran tidak sebanding dengan jumlah sumberdaya alam yang semakin lama semakin berkurang. Penggunaan sumberdaya alam yang berlebihan akan memberikkan dampak buruk bagi kehidupan manusia karena jika jumlahnya berkurang dan habis maka sumberdaya tersebut tidak dapat dimanfaatkan kembali.
Hasil hutan bukan kayu memiliki potensi yang sangat besar untuk dimanfaatkan, namun apabila pemanfaatan dengan jumlah yang sangat besar akan berpengaruh terhadap kelangsungan hasil hutan bukan kayu itu sendiri. pemanfaatan hasil hutan bukan kayu harus memiliki prinsip keberlangsungan, artinya pemanfaatanya tidak secara besar-besaran sehingga dapat dimanfaatkan dimasa yang akan datang. Pemanfaatan hasil hutan bukan kayu sejalan dengan penanaman kembali sehingga jumlahnya akan selalu ada dan dapat dimanfaatkan kembali.
Permasalahan yang sering terjadi di Indonesia khususnya permasalahan dikalangan wanita yang melahirkan adalah masalah ASI eksklusif. Pemberian ASI eksklusif yang baik adalah 2 tahun, namun kebanyakan dari wanita Indonesia memiliki permasalahan terhadap produktivitas menghasilkan ASI sehingga banyak dikalangan wanita tidak memberikkan ASI eksklusif dan hanya memberikkan ASI beberapa bulan atau bahkan ada yang sudah memberikkan susu formula kemasan dari awal kelahiran. Tentu saja ini berdampak terhadap bayi tersebut, pemberian ASI eksklusif jauh lebih memiliki manfaat yang besar dibandingkan dengan pemberian susu formula. Selain memiliki manfaaat yang besar dibandingkan dengan susu formula, ASI juga dinilai memiliki nilai ekonomis sehingga tidak memberikkan pengeluaran yang begitu besar bagi rumah tangga.
Pemanfaatan daun kelor (Moringa oleifera) agar mempermudah dalam memproduksi ASI eksklusif sehingga pemanfaatanya sudah sangat terkenal dikalangan masyarakat. Sebelum dikenal memiliki manfaat mempermudah produksi ASI tanaman kelor sering kali dianggap tanaman hutan yang tidak memiliki manfaat yang lebih sehingga keberadaanya diabaikan. Tanaman kelor dapat tumbuh di hutan hujan yang memiliki intensitas hujan yang tidak terlalu tinggi serta yang memiliki kelembaban rata-rata. Masyarakat hasil hutan yang mengetahui keberadaan kelor hanya memanfaatkan kayunya sebagai kayu bakar dan mengabaikan daunya yang memiliki begitu banyak manfaat. Daun kelor seringkali dianggap sebagai Miracle of Tree atau pohon keajaiban karena memiliki segudang manfaat bagi manusia. Dalam hal ini paper ini akan membahas mengenai manfaat daun kelor serta kandungan yang ada di dalam daun kelor sebagai hasil hutan bukan kayu menurut Permenhut no.35 tahun 2007. Diharapkan setelah penulis selesai menulis paper ini masyarakat lebih memahami manfaat daun kelor itu sendiri.
1.2 Rumusan Masalah
1. Apa itu tanaman kelor (Moringa oleifera) ?
2. Apa kandungan nutrisi dari tanaman kelor (Moringa oleifera) ?
3. Apa manfaat tanaman Kelor Sebagai Hasil Hutan Bukan Kayu ?
1.3 Tujuan
1. Untuk mengetahui pengertian tanaman kelor (Moringa oleifera)
2. Untuk mengetahui kandungan nutrisi tanaman kelor (Moringa oleifera)
3. Untuk mengetahui manfaat tanaman Kelor Sebagai Hasil Hutan Bukan Kayu
BAB II
ISI
2.1 Pengertian Tanaman Kelor (Moringa oleifera)
Tanaman kelor (Moringa oleifera) merupakan salah satu jenis HHBK yang memiliki posisi strategis untuk dikembangkan. Tanaman kelor merupakan salah satu jenis tanaman tropis yang mudah dibiakkan karena tidak memerlukan perawatan yang intensif dan memiliki toleransi kekeringan yang tinggi. Dengan sifat tersebut, tanaman kelor memungkinkan untuk dibudidayakan pada lahan-lahan marginal untuk mengoptimalkan pemanfaatan lahan. Selain itu berbagai bagian tanaman kelor mengandung nutrisi yang baik dan bermanfaat secara luas pada berbagai bidang seperti: pangan, kesehatan, kecantikan dan lingkungan, sehingga sangat wajar jika mendapat julukan Tree For Life. Perubahan pola hidup masyarakat menjadikan tanaman kelor sebagai pangan tradisional cenderung ditinggalkan oleh sebagian masyarakat. Sebab itu, informasi terkait ragam manfaat tanaman kelor perlu disosialisasikan pada masyarakat agar dapat dioptimalkan budidaya dan pemanfaatannya.
Tanaman Kelor (Moringa oleifera) merupakan salah satu jenis tanaman tropis yang mudah tumbuh di daerah tropis seperti Indonesia. Tanaman kelor merupakan tanaman perdu dengan ketinggian 7-11 meter dan tumbuh subur mulai dari dataran rendah sampai ketinggian 700 m di atas permukaan laut. Kelor dapat tumbuh pada daerah tropis dan subtropis pada semua jenis tanah dan tahan terhadap musim kering dengan toleransi terhadap kekeringan sampai 6 bulan. Kandungan nilai gizi yang tinggi, khasiat dan manfaatnya menyebabkan kelor mendapat julukan sebagai Mother’s Best sendiri pemanfaatan kelor masih belum banyak diketahui, umumnya hanya dikenal sebagai salah satu menu sayuran. Selain dikonsumsi langsung dalam bentuk segar, kelor juga dapat diolah menjadi bentuk tepung atau powder yang dapat digunakan sebagai pada berbagai produk pangan, seperti pada olahan pudding, cake, nugget, biscuit, cracker serta olahan lainnya.
Kelor dikenal di seluruh dunia sebagai tanaman bergizi dan WHO telah memperkenalkan kelor sebagai salah satu pangan alternatif untuk mengatasi masalah gizi (malnutrisi) (Broin, 2010). Di Afrika dan Asia daun kelor direkomendasikan sebagai suplemen yang kaya zat gizi untuk ibu menyusui dan anak pada masa pertumbuhan. Semua bagian dari tanaman kelor memiliki nilai gizi, berkhasiat untuk kesehatan dan manfaat dibidang industri.
Peraturan Menteri Kehutanan Nomor: P.35/Menhut-II/2007 menggolongkan kelor sebagai salah satu komoditas Hasil Hutan Bukan Kayu (HHBK) kelompok hasil tumbuhan. Disebutkan pula bahwa Hasil Hutan Bukan Kayu adalah hasil hutan hayati, baik nabati maupun hewani beserta produk turunan dan budidaya, kecuali kayu yang berasal dari hutan. Posisi tanaman kelor sebagai salah satu komoditas HHBK menjadikan strategis untuk dikembangkan.
Klasifikasi mengenai tanaman kelor sebagai Hasil Hutan Bukan Kayu (HHBK) menurut Permenhut no.35 tahun 2007 adalah sebagai berikut:
Kingdom : Plantae
Divisi : Magnoliopsida
Kelas : Magnoliopsida
Bangsa : Brassicales
Suku : Moringaceae
Marga : Moringa
Jenis : Moringa oleifera, L
Daun Moringa oleifera L mempunyai 8-10 pasang anak daun dengan arah yang berlawanan terhadap sumbu utama. Anak daun memiliki warna hijau dan berbentuk elips (tumpul pada apex dan runcing pada pangkal). Bunga kelor merupakan bunga biseksual (memiliki benang sari dan putik), berwarna putih dan terletak pada ketiak daun dengan panjang 10-25 cm dan lebar 4 cm. Bunga kelor berwarna cokelat ketika matang dan memiliki tiga lobus dengan panjang 20-60 cm setiap buah berisi 12-35 biji (Rahman, 2015).
Tanaman Moringa oleifera L dapat bertahan dalam musim kering yang panjang dan tumbuh dengan baik di daerah dengan curah hujan tahunan berkisar antara 250-1500 mm. Meskipun lebih suka tanah kering lempung berpasir atau lempung, tetapi dapat hidup di tanah yang didominasi tanah liat. Secara umum, parameter lingkungan yang dibutuhkan tanaman kelor untuk tumbuh dengan baik adalah iklimtropis atau sub-tropis, ketinggian 0-2000 meter dpl, suhu 25-35°C, pH tanah 5-9 (Widowati, 2014). Moringa oleifera L di Indonesia dikenal dengan berbagai nama. Masyarakat Sulawesi menyebutnya kero, wori, kelo atau keloro. Orang Madura menyebutnya maronggih. Di Sunda dan Melayu disebut kelor. Di Aceh disebut murong. Di Ternate dikenal sebagai kelo. Di Sumbawa disebut kawona. Sedangkan orang-orang Minang mengenalnya dengan
namamunggai (Hardiyanthi, 2015).
namamunggai (Hardiyanthi, 2015).
1.2 Kandungan Nutrisi Dari Tanaman Kelor (Moringa oleifera)
Zat-zat yang terkandung dalam daun Moringa oleifera L sangat berguna bagi tubuh manusia. Menurut hasil penelitian, daun kelor ternyata mengandung vitamin A, vitamin C, vitamin B, kalsium, kalium, besi dan protein dalam jumlah sangat tinggi yang mudah dicerna dan diasimilasi oleh tubuh manusia. Daun Moringa oleifera L memiliki kandungan kalsium yang lebih banyak daripada susu, lebih banyak zat besi daripada bayam, lebih banyak protein daripada telur dan lebih banyak kalium daripada pisang. Zat lain yang sudah diidentifikasi dalam daun kelor antara lain: senyawa polifenol (asam galat, asam klorogenat, asam elegat, asam ferulat, kuersetin, kaempferol, proantosianidin dan vanilin), vitamin E, β-karoten, zink dan selenium.
Daun Moringa oleifera Lmerupakan salah satu tanaman yang kaya akan vitamin dan mineral. Komposisi vitamin tersebut antara lain vitamin A, B1, B2, B3, B6, dan C. Daun Moringa oleifera L mengandung sejumlah asama amino. Asam amino yang terkandung diduga mampu meningkatkan sistem imun. Asam amino dalam tubuh akan mengalami biosintesa protein, dari 20 macam asam amino yang 13 ada yakni 19 asam amino α-L-amino dan satu asam L-iminodapat disintesa menjadi 50.000 lebih protein yang bersamadengan enzim berperan dalam mengontrol aktivitas kimia antibodi untuk mencegah berbagai macam penyakit. Daun Moringa oleifera L juga mengandung flavonoid yang berfungsi sebagai antioksidan yang mampu menjaga terjadinya oksidasi sel tubuh. Selain itu, kandungan minyak atsiri dan flavonoid yang terdapat pada daun dapat mencegah peroksidasi lemak.
Antioksidan dapat melawan pengaruh bahaya dari radikal bebas atau Reactive Oxygen Species (ROS) yang terbentuk sebagai hasil dari metabolisme oksidatif yaitu hasil dari reaksireaksi kimia dan proses metabolik yang terjadi dalam tubuh. Antioksidan dapat diklasifikasikan menjadi dua jenis yaitu antioksidan sintetik dan antioksidan alami. Antioksidan sintetik diperoleh dari hasil sintesa reaksi kimia, sedangkan antioksidan alami diperoleh dari hasil ekstraksi bahan-bahan alami diantaranya yaitu tokoferol, lesitin, fosfatida, sesamol, gosipol, karoten, asam tanat, gallic acid (senyawa phenolic), ferulic acid (senyawa phenolic), quercetin (flavonoid) dan sebagainya.
Daun kelor berbentuk bulat telur dengan tepi daun rata dan ukurannya kecilkecil bersusun majemuk dalam satu tangkai. Daun kelor muda berwarna hijau muda dan berubah menjadi hijau tua pada daun yang sudah tua. Daun muda teksturnya lembut dan lemas sedangkan daun tua agak kaku dan keras. Daun berwarna hijau tua biasanya digunakan untuk membuat tepung atau powder daun kelor. Apabila jarang dikonsumsi maka daun kelor memiliki rasa agak pahit tetapi tidak beracun. Rasa pahit akan hilang jika kelor sering dipanen secara berkala untuk dikonsumsi. Untuk kebutuhan konsumsi umumnya digunakan daun yang masih muda demikian pula buahnya.
Berdasarkan penelitian Verma et al (2009) bahwa daun kelor mengandung fenol dalam jumlah yang banyak yang dikenal sebagai penangkal senyawa radikal bebas. Kandungan fenol dalam daun kelor segar sebesar 3,4% sedangkan pada daun kelor yang telah diekstrak sebesar 1,6%. Penelitian lain menyatakan bahwa menunjukkan bahwa daun kelor mengandung vitamin C setara vitamin C dalam 7 jeruk, vitamin A setara vitamin A pada 4 wortel, kalsium setara dengan kalsium dalam 4 gelas susu, potassium setara dengan yang terkandung dalam 3 pisang, dan protein setara dengan protein dalam 2 yoghurt. daun kelor mengandung antioksidan tinggi dan antimikrobia.
1.3 Manfaat Tanaman Kelor Sebagai Hasil Hutan Bukan Kayu
Dalam Permenhut No.35 Tahun 2007 tanaman kelor masuk kedalah Hasil Hutan Bukan Kayu dalam kategori Minyak atsiri dimana tanaman kelor dapat dimanfaatkan sebagai penghasil minyak nabati yang berasal dari tumbuhan. Namun, selain itu tanaman kelor memiliki manfaat lainya antara lain sebagai berikut: kecantikan, pangan, meningkatkan gizi ibu hamil, antimikroba, antijamur, antihipertensi, antihyperglikemik, antitumor, antikanker, anti-inplamasi.
Pemanfaatan kelor sebagai penghasil minyak atsiri didapatkan dari daun kelor itu sendiri dengan cara konvensional maupun cara modern. Namun, banyak cara yang masih digunakan dalam menghasilkan minyak atsiri adalah dengan cara konvensional hal ini dikarenakan cara ini dinilai lebih ramah lingkungan serta tidak membutuhkan dana yang begitu besar sehingga masyarakat lebih banyak menggunakan cara konvensional. Dari segi jumlahnya cara konvensional lebih sedikit dibandingkan dengan cara modern belum lagi proses yang membutuhkan waktu yang lama.
Pengambilan minyak atsiri yang terdapat di dalam tanaman dapat dilakukan dengan cara ekstraksi. Ekstraksi adalah proses pengambilan suatu zat pada padatan melalui kontak dengan pelarut. Terdapat berbagai cara ekstraksi, salah satu metode ekstraksi alternatif yang belum banyak dilakukan adalah Microwave Assisted Extraction (MAE). MAE merupakan teknik untuk mengekstraksi bahan-bahan terlarut di dalam bahan tanaman dengan bantuan energi gelombang mikro. Teknologi MAE memiliki kelebihan diantaranya kontrol terhadap temperatur yang lebih baik dibandingkan proses pemanasan konvensional, waktu ekstraksi yang lebih singkat, konsumsi energi dan solven yang lebih sedikit, serta rendemen yang lebih tinggi. Belum ada informasi lebih lanjut terkait pengambilan minyak atsiri dari daun kelor dengan metode MAE. Dengan demikian, perlu dilakukan penelitian minyak atsiri dari daun kelor dengan metode MAE. Pada penelitian ini dikaji pengaruh daya microwave terhadap rendemen dan karakteristik minyak atsiri daun kelor yang dihasilkan (Hidayati dkk., 2018)
Bagian tanaman yang mengandung banyak minyak lemak umumnya adalah biji. Meskipun demikian, pada pohon bintaro dan buah merah, minyak lemak banyak terdapat pada bagian daging buah; sedangkan pada pohon kelor, minyak lemak banyak terdapat pada daun. Perbedaan antara minyak dan lemak adalah wujudnya pada suhu kamar, yaitu minyak berwujud cair, sedangkan lemak berwujud padat. Selain itu, minyak banyak mengandung asam lemak tidak jenuh, sedangkan lemak banyak mengandung asam lemak jenuh. Produk yang dihasilkan oleh tanaman minyak lemak dapat berupa buah, biji, daun atau batang yang dimanfaatkan langsung tanpa diolah menjadi minyak lemak, atau terlebih dahulu diolah menjadi minyak lemak dan kemudian dimanfaatkan.
Pohon kelor dapat memproduksi buah mulai umur 1 tahun hingga 2 tahun pertama, namun jumlahnya relatif rendah. Selanjutnya, pohon yang berumur 3 tahun dapat menghasilkan 400–600 polong setiap tahunnya selama periode produksi 10–15 tahun. Pohon dewasa dapat menghasilkan sekitar 1.600 polong/tahun. Beberapa hasil penelitian menunjukkan bahwa kadar minyak yang dihasilkan biji kelor mencapai 33–35% dari berat inti biji, yang mana berat inti biji adalah 2/3 dari berat biji. Minyak lemak kelor memiliki potensi sebagai bahan bakar nabati. Analisis pada minyak biji kelor ini menunjukkan berat jenis sebesar 0,89– 0,91 g/ml, kandungan asam lemak bebas (persen FFA) 2,07–4,78%, nilai angka penyabunan 8,56–107,54 mgKOH/g, bilangan asam 0,040–0,095 mgKOH/g, dan viskositas 29,36–54,99 cst.
Manfaat lain dari biji kelor adalah sebagai bahan penjernih air. Biji kelor yang ditumbuk menjadi serbuk dapat dimanfaatkan untuk koagulan alami dalam pengolahan air bersih. Penjernihan air optimum dapat dilakukan dengan biji kelor dengan dosis 0,4–0,5 g/l dan ukuran 300 mesh serta waktu tinggal 4–6 jam. Penelitian lainnya menunjukkan bahwa biji kelor dapat dimanfaatkan sebagai penjernih air dari logam berat air minum, koagulan fosfat pada limbah air, penjernih dari air tercemar kapur, dan lain-lain. Bagian akar, batang, buah, dan daun dari kelor dikenal memiliki nilai gizi tinggi dan menjadi sumber pangan alternatif. Daun kelor adalah salah satu bagian tanaman yang biasa dikonsumsi masyarakat sebagai lalapan. Daun kelor kaya dengan kandungan vitamin A dan kalsium. Setiap 100 g daun kelor mengandung sekitar 3.390 SI vitamin A (dua kali lebih tinggi dari kandungan vitamin A pada bayam dan 30 kali lebih tinggi dari buncis). Daun kelor juga mengandung kalsium sekitar 440 mg/100 g dan fosfor sekitar 70 mg/100 g dengan total energi sekitar 385 kJ/100 g.
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
1. Kelor memiliki manfaat sebagai penghasil minyak atsiri berdasarkan Permenhut No.35 Tahun 2007.
2. Kelor memiliki mengandung vitamin A, vitamin C, vitamin B, kalsium, kalium, besi dan protein dalam jumlah sangat tinggi yang mudah dicerna dan diasimilasi oleh tubuh manusia.
3. Kelor memiliki potensi sebagai Hasil Hutan Bukan Kayu karena memiliki banyak manfaat bagi kehidupan manusia.
4. Hampir seluruh bagian Kelor (Moringa oleifera) dapat dimanfaatkan dimulai dari akar, batang, daun dan biji sehingga memiliki manfaat yang banyak bagi manusia.
DAFTAR PUSTAKA
Aminah, S., Tezar, R., Muhlihani, Y., 2015. Kandungan Nutrisi dan Sifat Fungsional Tanaman Kelor (Moringa oleifera). Buletin Pertanian Perkotaan. 5(2): 35-44.
Hidayati, N dan Haquila,S., 2018. Analsis Pengaruh Daya Microwave Pada Proses Pengambilan Minyak Atsiri Daun Kelor (Moringan oleifera) Dengan Metode Microwave Assited Extraction (MAE). Simposium Nasional.
Isnan, W dan Nurhaedah, M., 2017. Ragam Manfaat Tanaman Kelor
(Morina oleifera) Bagi Masyarakat. Jurnal Teknis Eboni. 14(1): 63-75
(Morina oleifera) Bagi Masyarakat. Jurnal Teknis Eboni. 14(1): 63-75
Puspitojati, T., Mohammad, S., Ary, W., 2017. Mengenal Hasil Hutan Bukan Kayu: 18 Jenis Tanaman Penghasil Minyak Lemak. Bogor: Forda Press. Halaman: 24- 26.
Sudaryanto, Totok, H., Selly, H., P., 2016. Aktivitas Antioksidan Pada Minyak Biji Kelor (Moringa oleifera) Dengan Metode Sokletasi Menggunakan Pelarut N-Heksan, Metanol dan Etanol. Jurnal Teknotan. 10(2). 16-21.
Yuliani, N., N dan Desmira, P., D., 2015. Uji Aktivitas Antioksidan Infusa Daun Kelor (Moringa oleifera) Dengan Metode 1,1 diphenyl-2picyrylhdrazyl. Jurnal Info Kesehatan. 14(2): 1060- 1081.





Bagaimana persebaran daun kelor
BalasHapusUntuk saat ini kelor sering kali ditanam didepan halaman rumah kaka. Sbg tanaman hias dan dapat dimanfaatkan
HapusWahh,sangat informatif sekali😊
BalasHapusTerima kasih mas
HapusWaah sangat membantuu kalii informasii nyaaa. Semangat terus untuk memyebarkan informasi yang bermanfaat bagi banyak orangg.
BalasHapusIya terima kasih, sudah dtaang :)
HapusWahh bermanfaat nih ilmunyaaa 😍😍😍
BalasHapusMakasih ka
HapusTernyata banyak manfaat kelor ya
BalasHapusTerimakasih infonyaa
Iya ka bisa dimanfaatkan juga untuk kecantikan. Terimakasih sudah datang
Hapusterimakasih info nya bg
BalasHapusSama sama ka
HapusBermanfaat sekaliii
BalasHapusTerimakasih
Hapuskenapa kelor susah ditemukan ?
BalasHapusKarna masih banyak yg belm mengetahui manfaat kelor itu sendiri ka
HapusSangat bermanfaat, saya yg goblok jadi tau informasi ini walaupun susah untuk menangkapnya karna kegoblokan saya 👍🏻
BalasHapusHahaha suwun mas wes mampir
HapusMakasih infonya gan..
BalasHapusSama2 ka
HapusTanam dikampus dong
BalasHapusHehehe siap ka
HapusHasil hutan bukan kayu, mantapp bg
BalasHapusTerima kasih ka
HapusApakah ada produk instan yg sudah di hasilkan dari kelor?
BalasHapusSaat ini ada ka
HapusBermanfaat sekali infonya
BalasHapusTerimakasih ka
HapusThanks you informasinya jadi nambah ilmu pengetahuan
BalasHapusSama sama ka
HapusMakasih ya khoiri.. jadi nambah wawasan inii..
BalasHapusIya ka, terimakasih juga sudah berkunjung
HapusApik tenan iki, terima kasih infonya
BalasHapusSuwun ka
HapusSangat membantu sekali bang, sukses terus ya
BalasHapusTerimakasih ka, kaka jga
HapusJadi nambah pengetahuan,sukses trus ka
BalasHapusIya terimakasih, :))
HapusKeren nih Authornya
BalasHapusTerimakasih ka hehe
Hapussangat membantu sekali jadi nambah wawasan nih
BalasHapusWah alhamdulillah dapat membantu
HapusWahhh luar biasa yaa manfaat dari dau kelorr, banyak yang gak tau ini, makasih kk informasi nya
BalasHapusIya ka samasama
HapusSebelum mengetahui banyak hal tentang daun kelor ini, didaerah tempat tinggal saya daun kelor hanya dijadikan pakan ternak seperti kambing
BalasHapusIya mas, masih banyak yg sedikit tau ttg manfaatnya
HapusGood info nih
BalasHapusMakasih mas
HapusMenarik sekali informasinya. Terimakasih admin
BalasHapusTerimakasih kaka
HapusMemang ya dunia tak selebar daun kelor
BalasHapusWow, hasil hutan bukan kayu, menarik sekali, besok2 saya mau nanem pohon kelor belakang rumah dan menjadi juragan pohon kelor
BalasHapusWkwkwkwk, siap mas. Kalau ada apa2 hubungi saya saja
HapusSangat bermanfaat dan menarik juga tampilannya Mksih min info nya
BalasHapusMakasih kaka
HapusAku suka dengan infonya, menarik
BalasHapusMakasih ya qaqa :))
HapusMakalahnya sangat bermanfaat terimakasih infonya
BalasHapusTerimakasih loh ya mas
HapusSemangat mas belajar nya
BalasHapusTerimakasih mas, masnya semangat penelitianya
Hapuswah sangat bagus tulisannya... menmbh ilmu.. terimkasih mas
BalasHapusIya ka sama sama, terimakasih sudah berkunjung
HapusWah. Keren infonya. Sangat bermanfaat
BalasHapusTerimakasih sudah berkunjung ka
HapusMantap inii. Pemanfaatannya sebagai penjernih air bisa dijadiin ide buat pkm-k iniii
BalasHapus