5 PILAR SANITASI TOTAL BERBASIS LINGKUNGAN YANG DAPAT MENURUNKAN ANGKA STUNTING DI INDONESIA
Stunting adalah kondisi gagal tumbuh pada anak balita akibat dari kekurangan gizi kronis sehingga anak terlalu pendek untuk usianya (kekurangan gizi terjadi sejak bayi dalam kandungan dan pada masa awal setelah anak lahir, tetapi baru nampak setelah anak berusia 2 tahun). Stunting juga berdampak pada tingkat kecerdasan, kerentanan terhadap penyakit, menurunkan produktivitas dan kemudian menghambat pertumbuhan ekonomi, meningkatkan kemiskinan dan ketimpangan. Dampak lain dari Stunting adalah penurunan sistem imunitas tubuh dan meningkatkan resiko terkena penyakit infeksi. Kecenderungan untuk menderita penyakit tekanan darah tinggi, diabetes, jantung dan obesitas akan lebih tinggi ketika anak stunting menjadi dewasa. Anak stunting memiliki IQ 11 point lebih rendah dibandingkan rata-rata anak yang tidak stunting. Kenyataannya sekitar 37% atau sekitar 9 juta anak di Indonesia mengalami (Riskesdas, 2013). Berdasarkan data dari OECA PISA yang menyatakan bahwa tingkat kecerdasan anak Indonesia berada diurutan 64 terendah dari 65 negara. Kondisi gagal tumbuh pada anak disebabkan karena anak tidak menerima gizi yang cukup pada saat di dalam kandungan. Akibatnya anak mengalami gagal tumbul sehingga anak terlalu pendek untuk usianya.
Beberapa faktor yang menyebabkan stunting antara lain adalah sebagai berikut: Faktor gizi buruk yang dialami oleh ibu hamil maupun anak balita, kurangnya pengetahuan ibu mengenai kesehatan dan gizi, masih terbatasnya layanan kesehatan, masih kurangnya akses kepada makanan bergizi dan kurangnya akses air bersih dan sanitasi. Sulitnya akses air bersih dan sanitasi yang buruk dapat memicu stunting pada anak. Terdapat 5 pilar sanitasi total berbasis lingkungan. Yang pertama adalah cuci tangan menggunakan sabun, kedua pengelolaan air minum dan makanan rumah tangga, ketiga berhenti buang air besar sembarangan, keempat pengelolaan sampah rumah tangga dan kelima pengelolaan limbah cair rumah tangga. Mencuci tangan menggunakan sabun adalah salah satu upaya pencegahan melalui tindakan sanitasi dengan membersihkan tangan dan jari jemari menggunakan sabun. Mencuci tangan menggunakan sabun adalah salah satu cara paling efektif dan murah untuk menghindarkan diri dari beberapa penyakit seperti diare dan pneumonia. Tangan sering berperan sebagai vector yang membawa pathogen penyebab penyakit antar orang, baik melalui kontak langsung maupun tidak langsung. Mencuci tangan dengan menggunakan sabun dapat mencegah penularan penyakit. Hasil studi WHO (2007) membuktikkan bahwa angka kejadian diare dapat menurun sebesar 32% dengan meningkatkan akses masyarakat terhadap sanitasi dasar 45% dengan perilaku mencuci tangan menggunakan sabun. Hal ini dapat menjadi salah satu cara untuk mencegah agar kuman masuk kedalam tubuh manusia khususnya bagi wanita yang sedang mengandung dapat menurunkan resiko anak terkena stunting.
Air minum yang dikonsumsi untuk kebutuhan sehari-hari harus air bersih dan tentunya bebas dari beberapa penyakit yang dapat menyebabkan penyakit. Khususnya stunting, ibu hamil terlebih harus mengonsumsi air bersih lebih banyak dibandingkan dengan ibu yang tidak sedang mengandung. Hal ini dikarenakan sang ibu yang sedang mengandung membutuhkan air minum yang banyak guna untuk memproduksi asi ekskusif dan untuk bahan makan untuk sang calon bayi. Pengelolaan air minum harus benar-benar masak dan bersih. Air merupakan tempat paling efektif bagi banyak kuman untuk berkembang biak, hal tersebut yang membuat air minum harus terlebih dahulu dimasak hingga matang sekitar 100 derajat celcius sehingga kuman yang terdapat dalam air dapat dipastikkan benar-benar sudah mati. Selain pengelolaan air minum bersih yang harus diperhatikkan untuk mengurangi angka stunting, pengelolaan makanan juga harus diperhatikkan karena makanan yang akan dikonsumsi oleh sang ibu pula yang akan dikonsumsi bagi calon bayi di dalam kandungan. Calon bayi mengambil sari makanan dari ibu melalui tali pusar untuk disalurkan kepada sang calon bayi. Asupan gizi yang dikonsumsi oleh sang ibu juga harus diperhatikkan guna menghindari kekurangan gizi bagi sang calon bayi yang dapat menyebabkan terkena stunting. Menurut Kementerian Kesehatan Republik Indonesia gizi makanan yang dibutuhkan ibu hamil jauh lebih banyak dibandingkan pada saat tidak sedang mengandung. Harus terlebih mengandung banyak folat, asam lemak omega 3, kalsium, zat besi dan seng. Semua nutrisi tersebut dapat diperoleh dengan dari sayur-sayuran, buah maupun makanan hasil laut.
Secara global 15% penduduk masih melakukkan buang air besar di tempat terbuka. Jumlah yang paling besar terdapat di Asia dan Afrika sub-Sahara dengan angka 44% dan 27%. Di beberapa daerah di Indonesia beberapa masyarakatnya masih melakukkan kebiasan buang air besar ditempat terbuka. Hal ini dikarenakan kurangnya infrastruktur dan sanitasi lingkungan yang kurang baik. Sehingga angka stunting dapat meloncat dengan sangat indah dibeberapa daerah di Indonesia. Endapan tinja terkumpul di kaskus sering kali tidak dibawa ke tempat pengolahan. Untuk menurunkan angka stunting di Indonesia menghentikkan kebiasaan buang air besar di tempat terbuka. Dengan melakukkan hal ini angka stunting di Indonesia dapat menurun secara signifikan diikuti dengan rutinitas yang sehat dari masyarakat dengan dibantu oleh pemerintah untuk mewujudukan penurunan angka stunting di Indonesia. Pengelolaan sampah rumah tangga dapat menurunkan angka stunting di Indonesia. Hal ini dikarenakan karena sampah yang menumpuk dapat diolah dengan cara mendaur ulang sampah yang menumpuk tidak dengan cara membakarnya karena dapat menimbulkan permasalahan lainnya, melainkan dengan cara mendaur ulang atau dengan cara menggunakan secara berkala. Hal ini dilakukkan untuk menurunkan jumlah sampah yang semakin bertambah setiap harinya. Hal lain yang dapat dilakukkan dengan cara menimbun sampah rumah tangga yang ada. Selain untuk menurunkan jumlah sampah yang ada, pengelolaan sampah rumah tangga dapat mengurangi resiko stunting karena pada saat ibu mengandung lebih rentan terkena penyakit akibat kotornya lingkungan sekitar. Selain limbah kering, rumah tangga juga menghasilkan limbah cair hasil dari pencucian piring, baju maupun sabun cair yang digunakan rumah tangga juga dapat mengakibatkan stunting. Hal ini dikarenakan limbah cair yang dihasilkan rumah tangga dapat menyebabkan beberapa penyakit yang dapat berdampak pada calon bayi yang ada di dalam kandungan. Limbah dan sampah rumah tangga tidak dikelola dengan baik juga dapat mencemari lingkungan yang membuat beberapa penyakit tumbuh dengan subur disekitar lingkungan yang tercemar.
Stunting membutuhkan perhatiaan serius dari Pemerintah Indonesia khususnya Kementerian Kesehatan Republik Indonesia dikarenakan angka stunting di Indonesia setiap tahunnya meningkat tidak menunjukkan angka penurunan sama sekali. Hal ini menjadikan permasalahan yang cukup serius dan dibutuhkan solusi untuk menekan angka stunting di Indonesia menurun. Beberapa pilar diatas dapat dijadikkan sebagai sebuah solusi untuk menurunkan angka stunting di Indonesia. Bukan hanya peran pemerintah saja yang dibutuhkan dalam hal ini, namun peran dari masyarakat dibutuhkan agar angka stunting dapat menurun.



Komentar
Posting Komentar